Banyak WNI Tak Bisa Nyoblos di Sydney, Acha Septriasa Curhat di Instagram

Foto: Banyak WNI Tak Bisa Nyoblos di Sydney, Acha Septriasa Curhat di Instagram Instagram
WowKeren dan Kanal247


Sudah memberikan hak suara pada Pemilu 2019 di Sidney, Australia, Acha Septriasa menceritakan sulitnya perjuangan WNI untuk memilih di luar negeri hingga menghimbau KPU untuk lebih baik.

Kanal247.com - Euforia Pemilihan Umum 2019 tidak hanya dirasakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) di tanah air, melainkan juga yang tinggal di negara lain. Para WNI yang tinggal di negara lain juga menunjukkan semangat untuk memberikan hak suaranya di pemilu tahun ini.


Baca juga ...

Seperti yang dilakukan Acha Septriasa dan sang suami yang telah memberikan hak pilihnya pada Minggu (14/4) di Sydney, Australia. Acha diketahui memang memilih untuk menetap di Negara Kanguru tersebut pasca menikah dengan Vicky Kharisma pada 2016 silam.

Melalui akun Instagram pribadinya @septriasaacha, Acha menceritakan sulitnya para WNI di Sydney untuk memberikan hak pilihnya. Ibu satu anak ini menjelaskan bahwa masih banyak WNI yang belum bisa memberikan hak suaranya untuk pemilu tahun ini. Hal tersebut terjadi lantaran adanya batasan waktu untuk memilih.

"Trudy Hasta Taftiana dan teman- teman yang ada di foto ini, mungkin mereka sedang merasa sedih krn sebagai WNI yang ber hak memilih dan sedang berada di luar Negeri," tulis Acha di keterangan foto yang ia unggah. "Mereka BELUM menggunakan HAK PILIH nya. Dikarenakan Pintu di tutup jam 18.00 tepat.

Adanya batasan jam yang diberlakukan untuk pemilu di luar negeri membuat Acha merasa sedih. Lawan main Irwansyah dalam film "My Heart" itu menjelaskan bahwa banyak sekali WNI yang sudah menunggu untuk agar tidak menjadi golongan putih atau golput.

View this post on Instagram

Trudy Hasta Taftiana dan teman- teman yang ada di foto ini, mungkin mereka sedang merasa sedih krn sebagai WNI yang ber hak memilih dan sedang berada di luar Negeri , sebagai visitors, pendatang sementara, students, Permanent Resident baru, atau pun temporary resident , mereka BELUM menggunakan HAK PILIH nya. Dikarenakan Pintu di tutup jam 18.00 tepat, Menurut Informasi yang saya dapat, banyak dari mereka yang seharusnya sudah menjadi DPT tapi mungkin ketika di search di website KJRI resmi nama nya jadi Tidak bisa di temukan. Akhirnya mereka banyak yang pindah TPS. Turut menyayangkan bahwa banyak sekali teman- teman kita yang menunggu 5 tahun untuk memilih , bahkan mereka ada juga yang sudah memutuskan pilihan untuk TIDAK GOLPUT tp di batasi dengan JAM pemilih Khusus yang hanya 1 JAM sblm pencoblosan berakhir . Saya sendiri permanent resident di Sydney, Tp karena takut kehilangan hak pilih , saya datang jam 8 pagi ke Town Hall untuk mencoblos, masih blm terlalu crowded , ada 4 TPS panitia di sana juga dengan jelas mengInformasikan pd saya bahwa DPLNK ( khusus) yang telat mendaftar ulang ( pendaftaran berakhir 8 maret -13 maret 2019 )seperti saya boleh memilih dan datang lebih awal dr jam 17.00 supaya menghindari antrian yang membludak. Saya pindah TPS akhirnya ke Marrickville , disitu saya mencoblos di TPS 10, datang lebih awal jam 3.30 sore, traffic nya gak terlalu padat seperti di town hall dan KJRI , banyak pemilih Tetap yang entah mengapa terdaftar di panjang nya lists calon pemilih, tp NIHIL kedatangan nya di jam 3.30 sampe jam 5 sore. Guys, apapun itu.. tetap berpegang teguh pada Indonesia, yakin kalau keadaan ini pasti ada hikmah nya, dan jangan memperkeruh suasana dengan upaya2 prasangka. Mungkin Informasi yang kita akses sedemikian rupa dr Tim penyelenggara Pemilu Luar Negeri Sydney di website KJRI masih minim, namun Gak bisa di pungkiri Kejelasan sebagai peserta pemilih juga KURANG di Gaung kan ke seluruh masyarakat di Sydney dengan bebas di platform terbuka. Dan panitia seperti kewalahan menyambut pemilih yang datang dr segala penjuru NSW. Bagaimana @bawasluri @kpu_ri dan @kjrisydney menyikapi hal ini ?

A post shared by Acha Septriasa (@septriasaacha) on

"Turut menyayangkan bahwa banyak sekali teman- teman kita yang menunggu 5 tahun untuk memilih , bahkan mereka ada juga yang sudah memutuskan pilihan untuk TIDAK GOLPUT," lanjut Acha. "tp di batasi dengan JAM pemilih Khusus yang hanya 1 JAM sblm pencoblosan berakhir."

Tak lupa, Acha juga mengajak masyarakat untuk percaya kepada Indonesia dan tidak memberikan prasangka-prasangka mengenai pemilu 2019. Acha meminta agar WNI tidak memperkeruh suasana karena sulit menyalurkan hak suara di luar negeri.

Acha juga menghimbau agar tim penyelenggara pemilu di luar negeri untuk memberikan informasi yang lebih detail. Ia mengaku kurang memahami informasi yang didapatkan untuk melakukan pencoblosan. Bahkan Acha menyebut tim penyelenggara terlihat kewalahan karena banyaknya WNI yang datang ke TPS untuk memilih.

"Guys, apapun itu.. tetap berpegang teguh pada Indonesia, yakin kalau keadaan ini pasti ada hikmah nya, dan jangan memperkeruh suasana dengan upaya2 prasangka," harap Acha. "Mungkin Informasi yang kita akses sedemikian rupa dr Tim penyelenggara Pemilu Luar Negeri Sydney di website KJRI masih minim, namun Gak bisa di pungkiri Kejelasan sebagai peserta pemilih juga KURANG di Gaung kan ke seluruh masyarakat di Sydney dengan bebas di platform terbuka. Dan panitia seperti kewalahan menyambut pemilih yang datang dr segala penjuru NSW. Bagaimana @bawasluri @kpu_ri dan @kjrisydney menyikapi hal ini ?"

Komentar Anda

Tags

Topik Berita

Rekomendasi Artikel